Realitas tidak berada dalam konsep dan ide, seperti halnya ombak berhenti menjadi ombak ketika ditempatkan dalam sebuah bejana

Rabu, 29 Juni 2011

Tidak Mempunyai Tempat 1 Oleh : Anthony De Mello

“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakka kepala-Nya” Mattew 8 : 20

Inilah kesalahan yang dilakukan kebanyakan orang dalam hubungan mereka dengan orang lain. Mereka mencoba membangun tempat bersarang yang tetap dalam arus kehidupan yang terus bergerak. Bayangkan seorang yang cintanya Anda dambakan. Apakah Anda ingin jadi penting bagi orang itu, jadi istimewa dan membuat perbedaan dalam kehidupannya? Apakah Anda ingin orang itu peduli pada Anda dan memperhatikan anda secara khusus ? Apakah itu yang Anda inginkan, buka mata Anda dan lihatlah bahwa Anda dengan bodoh mengundang orang lain untuk menguasai diri anda, membatasi kebebasan anda untuk keuntungan mereka, mengendalikan perilaku anda, pertumbuhan serta perkembangan anda, sehingga sesuai dengan keinginan mereka. Seolah orang itu berkata dengan anda,” Apabila kau ingin jadi istimewa bagiku, kau harus memenuhi syarat-syaratku. Karena begitu kau berhenti memenuhi pengharapanku kau akan berhenti jadi istimewa.” Anda ingin jadi istimewa bagi seseorang bukan ? Karena itu, Anda harus membayarnya dengan kehilangan kebebasan anda. Anda harus menuruti semua keinginannya seperti juga anda menuntut orang lain menuruti semua keinginan anda apabila mereka ingin jadi istimewa bagi anda.
Kini berhentilah sebentar untuk bertanya kepada diri sendiri apakah setimpal membayar semahal itu untuk hal sekecil itu. Bayangkan anda berkata kepada orang yang cinta istimewanya anda inginkan itu, “ Biarkan aku bebas jadi diriku sendiri,memikirkan pikiranku,memenuhi seleraku, mengikuti kecenderunganku, berbuat sesukaku. “ Begitu mengucapkan kata-kata itu, anda akan mengerti bahwa anda meminta sesuatu yang mustahil. Minta jadi istimewa bagi seseorang berarti terikat pada tugas membuat diri anda menyenangkan bagi orang itu.





Tidak Mempunyai Tempat 2
Oleh : Anthony De Mello*

Dan karena itu, anda akan kehilangan kebebasan and. Renungkan hal itu dan sadarilah. Mungkin sekarang anda siap untuk berkata, Aku lebih suka memiliki kebebasanku daripada cintamu.” Apabila anda bisa punya teman dalam penjara atau berjalan bebas seorang diri di bumi, mana yang akan anda pilih ? Sekarang, katakana kepada orang itu. “ Aku membebaskanmu untuk menjadi dirimu sendiri, memikirkan pikiranmu, memenuhi seleramu, mengikuti kecenderunganmu, berbuat sesukamu.” Begitu anda mengatakannya, anda akan mengalami salah satu dari dua hal ini : Hati anda akan menolak kta-kata itu sehingga terbukalah jati diri anda sebagai si pelengket dan pengeksploitasi- karena itu, sekarang saatnya mengkaji ulang keyakinan kelliru anda bahwa tanpa orang itu anda tak bisa hidup bahagia. Atau hati anda akan mengucapkan kata-kata itu dengan tulus sehingga saat itu terlepaslah semua kendali, manipulasi, eksploitasi, sikap posesif dan rasa cemburu anda. “ Kubebaskan kau menjadi dirimu sendiri : memikirkan pikiranmu, memenuhi seleramu, mengikuti kecenderunganmu, berbuat sesukamu.” Dan anda akan mengalami satu hal lagi : Orang itu otomatis tak lagi menjadi istimewa dan penting bagi anda. Dan dia jadi penting seperti halnya matahari tenggelam atau sebuah simfoni memang sudah indah dengan sendirinya, seperti halnya sebuah pohon memang sudah indah dan bukan karena buahnya atau keteduhan yang bisa diberikannya kepada anda. Sehingga orang yang anda cintai tidak jadi milik siapapun seperti halnya matahari terbit dan pohon. Ujilah dengan mengucapkan kata-kata ini lagi. “ Kubebaskan kau menjadi dirimu sendiri……..” dengan berkata begitu, anda telah membebaskan diri sendiri. Anda sekarang siap untuk mencintai. Karena ketika anda melekat, yang anda tawarkan kepada orang lain bukanlah cinta, melainkan rantai yang mengikat anda dan orang yang anda cintai. Cinta hanya bisa ada dalam kebebasan. Pecinta sejati mencari kebaikan orang yang dicintainya- yang hanya bisa ada seiring pembebasan orang yang dicintai dari orang mencintainya.

*Anthony De Mello adalah segilintir orang berkesadaran yang telah terjaga. Sadar akan dirinya sendiri sehingga melampaui pikiran dan tercerahkan. Baginya Cinta adalah hal yang tidak mengandung pengenalan sama sekali dari pikiran dan merupakan hasil dari pencerahan

Rebellious Spirit

Rebellious Spirit

Agama telah terkerdilkan dengan hanya menjadi lembaga himpunan dogma. Yang berkutat pada pemutihan dosa dengan menawarkan bentuk~bentuk ibadah formal yang pas dengan dosa yang telah diperbuat. Hanya sampai di situkah peran agama ? menawarkan ibadah dengan segudang janji di alam nanti. Masih mampukah agama memberikan solusi nyata di tengah kesulitan hidup kita? Atau agama tak mau menerima hal baru dan mengatakan hal itu tidak ada di kitab suci mereka?.
Para nabi, para suci, mesias, atau apapun yang mereka sebut sebagai “pendiri” agama mereka, yang sebenarnya para nabi maupun “sejenisnya” tak pernah bermaksud ke arah pembentukan agama baru. Selalu mempunyai “semangat pemberontakan”, “pemberontakan terhadap dogma~dogma usang “ yang telah digunakan para “atasan” dalam hal ini bisa penguasa maupun pemuka agama untuk membantu melanggengkan kenyamanan mereka. Mereka selalu menakuti dengan ini dan itu agar “bawahan’ mau tunduk dan mereka bisa menikmati status quo mereka.
Seperti sebuah siklus yang tiada henti. Setiap para nabi yang membawa semangat pemberontakan dan perlawanan terhadap dogma~dogma usang selalu sulit untuk diterima. Tetapi setelah kematiannya baru mereka diterima dan ajarana mulai didogmakan. Yesus datang untuk kembali membangun kemanusiaan dengan pernyataannya bahwa dia adalah anak manusia. Hal itu dapat dipahami dengan mengambil analog Mahatma Gandhi. Jika kita sangat mencintai paham anti kekerasan dan benar~benar ingin menegakkannya, tentu kita akan menamakana diri kita Anak Gandhi. Ironis, Martin Luther King yang dianggap “pendiri” Kristen Protestan juga menentang adanya indulgensi atau penghapusan dosa katolik dengan cara membayar sejumlah uang, berperang, pengakuan dosa dll. Dogma yang ditentang hanya diganti dogma baru yang berkutat pada ibadah formalitas saja. Dianggap merupakan agama baru yang sah dari para nabi, mungkin begitu anggapan mereka.
Kita telah begitu terkondisi dengan pemahaman baku dari segelintir kelompok yang telah diterima orang banyak dan kita anggap sebagai kebenaran. Adakah para nabi ingin mendirikan agama baru? Jawaban Ya, jika kita telah terkondisi dengan jawaban baku yang ada. Tidak, jika kita berpikir ulang dengan mengaitkan masalah tersebut dengan keadaan masa kini. Katakanlah agama mayoritas pada saat ini di Indonesia islam dan Nasrani. Zaman nabi Muhammad nasrani dan yahudi, Nabi tidaklah termasuk salah satu diantaranya malah membawa risalah baru dan kemudian disebut sebagai “pendiri” agama baru. Pada masa kini maupun masa lalu mungkin respon masyarakat tidaklah jauh berbeda. Pasti akan menentangnya, dengan berbagai alasan. Para penguasa zaman nabi pun mentah~mentah menolaknya karena nabi jelas melarang penyembahan berhala di Ka’bah yang didatangi banyak orang dan para penguasa mendapatkan materi dari penjualan hal~hal yang dibutuhkan para peziarah ka’bah. Tentu pelarangan tersebut akan sangat merugikan secara finansial. Jadi penentangan pun bisa bersifat sangat politis. Para nabi tidaklah membawa ritual baru yang harus dilakukan, melainkan “spiritualitas”. Spirit behind ritual. Ajaran yang berlaku universal, yang tak terikat bentuk dan cara.
Para Nabi akan selalu diterima kecuali di negeri sendiri. Isa atau Yesus harus dikejar~kejar untuk disalibkan lantaran ajarannya dituduh menentah otoritas romawi. Muhammad juga harus hijrah. Budha juga harus diracun. Hanya sedikit orang yang bisa menerima mereka dan mereka yang menerima mereka adalah “sahabat”dalam arti sebenarnya. Yang tersiram jiwa mereka dengan anggur ilahi

Selasa, 31 Agustus 2010

Bukan Bentukan Sistem

Pernahkah kita bertanya dan tidak mengikutinya secara buta. Adakah kita merasa bebas atau, kebebasan kita hanyalah kebebasan yang terikat. Seperti seekor kambing yang terikat pada pohon. Kebebasannya hanya sepanjang tali yang mengikatnya.

Kita adalah manusia, manusia adalah citra-Nya. Begitu kitab suci mengatakannya. Tanpa mempertanyakan sesuatu kita tak akan berkembang. Tak pernah berhenti bertanya adalah hal yang paling penting, begitulah Einstein berkata.

Kita bisa memilih menjadi bonsai atau pohon rindang. Menjadi bonsai bukanlah sifat alami kita. Bonsai tercipta karena bentukan dari sistem buatan kita. Bonsai memang indah untuk dilihat. Ya, hanya itu saja. Pohon rindang memberi keindahan, keteduhan, menjaga ekosistem dan memberi kehidupan.

Bonsai-bonsai sistem keagamaan telah menjadikan kita bonsai. Kita menjadi berjiwa kerdil. Lihat para Nabi, Budha, Mesias. Mereka bukan bentukan sistem. Mereka menolak formalisme agama yang berkutat pada ritual saja. Mereka berupaya keras untuk menggapai keilahian. Mereka benar-benar tulus menggapai-Nya. Tanpa iming-iming surga dan ditakut-takuti neraka. Mereka para pohon rindang yang meneduhkan dan menjadi panutan hingga sekarang. Muhammad tak akan menjadi nabi bila mereka mengikuti sistem masyarakat mereka. Isa juga tak akan menjadi penyelamat, jika ia mengikuti para Rabbi yang mengkomersilkan agama mereka. Sidharta tak akan menjadi Budha jika hanya menuruti kemauan ayahnya semata. Bukan berarti kita menentang masyarakat, ayah, ibu kita. Menjadi diri kita tanpa membuat luka bagi yang lain. Juga tak memaksa orang lain untuk menjadi seperti kita

Rising In Love II Cara Baru Memaknai Cinta

Raising in Love berarti bangkit dalam cinta. Cinta memang seharusnya membangkitkan apa saja yang ada untuk menunjang kesadaran. Kesadaran apa pula yang diperlukan. Tanpa kesadaran akan hidup yang benar. Hidup akan menderita. Cinta memang seharusnya membangkitkan. Cinta yang membangkitkan datang dari segala penjuru. Tidak hanya dari pasangan lawan jenis. Cinta juga berasal dari pemahaman yang benar tentang kehidupan.
Jalan bersama dan berharap selalu dimengerti oleh pasangan bukanlah cinta. Itu adalah penipuan. Jika masih ada tuntutan itu belumlah cinta. Tulisan ini juga mengingatkan diriku sendiri tentang cinta. Cinta yang luas, cinta yang tak sempit. Cinta yang tak terbatas pada suatu hal atau seseorang.
Para sufi, para pencinta sejati Tuhan menjadikan cinta sebagai jalan mereka menuju Tuhan. Begitulah Jalaludin rumi berkata.

Kamis, 26 Agustus 2010

Rising In Love Cara Baru Memaknai Cinta

Jatuh cinta, kata itulah yang kita gunakan untuk menyebut keadaan manakala kita berkenalan dengan cinta. Barangkali kita tak menyadarinya, kenapa pertemuan kita dengan cinta yang begitu indah kita beri label “ jatuh”. Apakah cinta malah menjatuhkan. Kita beranggapan, itukan hanya istilah. Tahukah bahwa setiap kata adalah do’a. Setiap kata adalah pengingat.
Ketika jatuh cinta kita berharap pada orang yang kita cintai, bahwa kita akan selalu dimengerti, akan selalu bahagia di sampingnya. Begitu harapan kita tak terpenuhi kita kecewa.
Kita mencari orang lain yang bisa memenuhi harapan kita kembali. Kita jatuh cinta lagi. Tak terpenuhi lagi. Dan kembali mencari, kita belum cukup sadar, bahwa menaruh harapan pada seseorang atau sesuatu akan selalu menimbulkan resiko kekecewaan.
Jangan sandarkan diri pada orang lain. Kehidupan memang seharusnya tanpa sandaran. Kita datang sendiri dan harus kembali seorang diri pula. Mungkin apa yang kita cari dalam hubungan kita dengan orang lain adalah kebahagiaan. Kebahagiaan yang kita cari dapat tumbuh dengan sendirinya tanpa pemicu luaran.
Rising in Love akan menjawab pertanyaan itu.

Selasa, 12 Januari 2010

Mengenal "jalan"

Tuhan begitu banyak memberikan jalan kepada manusia untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya,dan kembali kepada-Nya. Terkadang kita terlalu sempit mengartikan bahwa "jalan" yang benar adalah jalan yang kita lewati. Tidak sadarkah kita, bahwa jalan yang tidak kita lewati sekalipun juga akan mengantar kita ke tujuan yang sama. Hargailah setiap jalan. Tapi jangan berhenti sampai di situ. Laluilah salah satu jalan hingga kau sampai pada tujuan